Perspektif

BoP (Battle of Personality); Puasa dan Kekuatan Penghancur Kesombongan

×

BoP (Battle of Personality); Puasa dan Kekuatan Penghancur Kesombongan

Sebarkan artikel ini

Oleh: Ibnu Furqan S.Hum 

PUASA, sebagaimana diketahui secara umum, adalah tindakan yang didasari oleh keinginan untuk menahan diri dari makan dan minum, sejak Matahari terbit, hingga terbenam. Puasa bukan semata-mata perintah yang diperuntukkan untuk umat yang beragama Islam, namun dalam tradisi keagamaan dari setiap manusia dalam rentang sejarah, sudah mengenal lama ritual semacam ini. Kristen misalnya, Puasa dianggap sebagai latihan mengelola emosi, dalam tradisi Katolik Puasa justru memiliki metode tersendiri, di mana umatnya pantang makan Daging dan wajib berpuasa pada Rabu dan Jumat agung. Lebih lama lagi ke belakang, pada kebiasaan orang-orang Yahudi, mereka sering menyebutnya Yom Kippur atau “Hari Penebusan”, di hari itu mereka akan berpuasa selama 25 jam, bukan hanya tidak makan dan minum, mereka juga tidak mandi, tidak memakai wewangian dan tidak melakukan hubungan intim dengan pasangan, seolah ini menjadi refleksi terhadap diri serta penyucian dosa mereka. Inilah makna dari apa yang difirmankan Tuhan “sebagaimana telah diwajibkan atas umat sebelum kamu…”.

Jika di tinjau secara rasional, perintah untuk berpuasa, bukanlah tanpa alasan, melainkan tindakan yang menunjukan kemanfaatan dari sebuah instrumen radikal, di mana instrument itu digunakan untuk melakukan dekonstruksi terhadap dominasi ego dan merekonstruksi spiritualitas manusia. Dalam tradisi Islam, puasa—atau shiyam— bertujuan membentuk mental dan perilaku Takwa, sebuah kualitas dari kepatuhan secara transedental kepada Tuhan. Oleh karena itulah setiap orang yang bersungguh-sungguh dalam berpuasa, maka ia kan mengalami transformasi totalitas pada diri.

Surah Al-Baqarah ayat 183, menjadi dasar hukum atas kewajiban Puasa bagi umat Islam, kata la’allakum tattaqun (agar kamu bertakwa) pada ayat tersebut, menggunakan kata la’alla yang dalam kaidah bahasa Arab sering kali bermakna li al-tarajji atau harapan yang harus diupayakan. Penjelasan ini sekaligus menegaskan bahwa Takwa bukanlah predikat yang otomatis didapatkan dengan sekadar menahan diri dari rasa lapar, melainkan sebuah output dari proses internalisasi nilai. Kaum Mufassirin seperti halnya Imam Al Qurtubi, dan juga Syaikh Wahba Az Zuhaili menekankan, bahwa puasa berfungsi sebagai al-imsak atau menahan. Yang dimaksudkan dengan menahan, adalah kemampuan untuk mengontrol diri dari keburukan yang datang kepadanya. Teoritikus seperti Sigmun Freud memandang proses menahan diri atau kontrol diri, adalah proses psikologis yang memungkinkan manusia untuk tidak menjadi budak insting biologisnya. Inilah makna yang secara gambling dapat dipahami, kenapa Puasa diwajibkan kepada kita umat Islam?!

Dalam perspektif Tasawuf, tokoh hebat seperti Imam Al-Ghazali dalam magnum opusnya “Ihya’ Ulumuddin” membagi puasa ke dalam tiga tingkatan: Pertama, puasa orang awam. Kedua, puasa khusus (khawash). dan ketiga puasa yang paling khusus (khawash al-khawash). Di konteks inilah Tasawwuf bermain secara tajam dengan logika kita. Bagi seorang sufi, puasa dari makan minum serta kemaluan hanyalah kulit luar. Inti dari puasa menurut mereka, adalah melindungi hati dari segala sesuatu selain Allah (shawm al-qaib). Puasa menurut penulis adalah proses “pengosongan” jiwa (takhalli) dari residu duniawi agar dapat terisi dengan sifat-sifat ketuhanan. Percaya atau tidak, implikasi positifnya sangat nyata: orang yang puasanya berada pada tingkat tinggi akan memiliki stabilitas emosional yang luar biasa karena pusat gravitasi kebahagiaannya tidak lagi bergantung pada asupan eksternal, melainkan pada ketenangan internal.

Pada dimensi sosial-etik. Manusia seharusnya merasa lapar, sebab itu ego yang cenderung menjadikan manusia Sombong dipaksa untuk tunduk dan patuh. Orang-orang Tasawwuf beranggapan, bahwa lapar adalah “cahaya” yang menerangi kegelapan hati. Bagaimana tidak? Puasa adalah proses Sirr (rahasia), tidak ada satupun manusia yang mengetahui, bahwa manusia yang lain sedang berpuasa, lebih dari itu, Puasa adalah perilaku “Meniru Tuhan” sebagaimana hadits Qudsi “Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya…”, dengan sendirinya Tuhan ingin menyampaikan, bahwa “Puasa adalah Shomad-Ku”, ini selaras dengan apa yang disampaikan oleh Imam Al Gazali dalam Ihya Ulumuddin, Juz 1. Orang yang berpuasa dilatih untuk tidak bergantung kepada makhluk Allah, melainkan kepada pencipta makhluk itu, yaitu Allah.

Selain itu, ada juga orang yang berpuasa tetapi ia hanya mendapatkan lapar dan haus, tanpa ada keberkahan dari puasanya, mengapa demikian? Itu terjadi, karena puasa yang mereka lakukan, terjebak pada ritualitas formal tanpa menyentuh hakikat dari puasa sendiri. Puasa seharusnya transformatif, di mana Nafsu Ammarah dikelola dan bertransformasi menjadi Nafsu Mutma’innah. Menurut Imam Ibnu Katsir, bahwa puasa adalah cara menyempitkan jalan Setan, itulah kenapa kaum Sufi beranggapan, bahwa dalam lapar terdapat penyempitan ruang gerak setan dalam aliran darah manusia. Logisnya, adalah ketika asupan energi fisik dikurangi, energi spiritual akan memiliki kesempatan untuk mendominasi ruang pada manusia, memungkinkan manusia berpikir lebih jernih dan bertindak lebih bijaksana. Oleh karena itulah puasa sangat penting, sebagai medium untuk melakukan Tarbiyah Iman, Islam dan Ihsan.

Jadi, keberhasilan puasa tidak terletak pada formalitas ibadahnya, melainkan pada, sejauh mana kemampuan seseorang dalam mengendalikan dirinya dalam praktek duniawi, serta melakukan “pengosongan” jiwa (takhalli) agar tercipta stabilitas emosional serta kedekatan transendental dengan Tuhan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *